Never Give Up...

Tiada kata menyerah dalam kebaikan... yang bersungguh-sungguh diayalah yang dapat, yang berusaha diya yang berhasil... ...MANDAJJA WA DAJJA...

Jumat, 28 Desember 2012

PERAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK


MAKALAH
PERAN ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN ANAK



Oleh:
M. Wardhan

SEKOLAH TINGGI LUKMAN AL- HAKIM HIDAYATULLAH SURABAYA TAHUN AJARAN 2012-2013


A.    Pendahuluan
Pendidikan merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap individu, baik anak-anak, dewasa maupun orang tua. Ada istilah mengatakan “tidak ada kata terlambat untuk belajar”. Betapa penting dan perlunya pendidikan itu bagi anak-anak. Dan jelaslah pula mengapa anak-anak itu harus mendapat pendidikan. “Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan”.
            “Pendidikan ialah pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat”. Dalam Untuk meningkatkan mutu pendidikan harus didukung sejumlah elemen, terutama dukungan dari orangtua peserta didik, karena banyak dari siswa yang putus sekolah itu disebabkan rendahnya kemauan dan dukungan orangtua terhadap siswa.
 
        
  Pendidikan dalam lingkungan keluarga memiliki peranan penting terhadap perkembangan anak. Orang tua mereka bertanggung jawab terhadap semua peningkatan dan kemajuan pendidikan anak-anaknya. Keluargalah yang menjadi penopang hidup sekaligus sebagai penentu masa depan anak.
             Dalam sebuah keluarga, pendidikan diawali sejak anak masih dalam ayunan, ditimang dan dibelai untuk kemudian dibentuk sebuah karakter anak yang diharapkan. Peran penting keluarga merupakan hal yang paling berpengaruh besar terhadap jiwa dan perkembangan mental anak-anak, mereka diberi bekal ilmu dan pengetahuan yang orang tua miliki.
Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern, faktor intern misalnya adalah kemauan dan niat anak, bakat, serta kesungguhan. Faktor ekstern misalnya dorongan orang tua atau teman, pengaruh lingkungan dan sebagainya.
Akan tetapi yang memiliki peran yang paling penting adalah kluarga, lebih khususnya orang tua. Karena waktu yang paling banyak dihabiskan oleh anak ialah di lingkungan keluarganya. Sehingga keluarga memilikki kesempatan yang sangat besar dalam membantu kualitas didik seorang anak.


B.    PEMBAHASAN
Pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh para orang tua. Saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini. Untuk itu orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mendampingi anak dalam kehidupan keseharian anak. Sudah merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dapat memancing keluar potensi anak, kecerdasan dan rasa percaya diri. Dan tidak lupa memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.
Ada banyak cara untuk memberikan pendidikan kepada anak baik formal maupun non formal. Adapun pendidikan formal tidak sebatas dengan memberikan pengetahuan dan keahlian kepada anak-anak mereka di sekolah. Selain itu pendidikan non formal menanamkan tata nilai yang serba luhur atau ahlak mulia, norma-norma, cita-cita, tingkah laku dan aspirasi dengan bimbingan orang tua di rumah.
Sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan formal memerlukan banyak hal yang mendukung yaitu antara lain kepentingan dan kualitas yang baik dari kepala sekolah dan guru, peran aktif dinas pendidikan atau pengawas sekolah, peran aktif orangtua dan peran aktif masyarakat sekitar sekolah. Akan tetapi orang tua juga tidak dapat menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Pendidikan anak dimulai dari pendidikan orang tua di rumah dan orang tua yang mempunyai tanggung jawab utama terhadap masa depan anak-anak mereka, sekolah hanya merupakan lembaga yang membantu proses tersebut. Sehingga peran aktif dari orang tua sangat diperlukan bagi keberhasilan anak-anak di sekolah.
Akantetapi sikap seperti apakah yang harus di lakukan oleh orangtua dan metode apa yang harus di terapkan dalam upaya meningkatkan kecerdasan anak?. Karna, jika kita melihat apa yang  banyak orang tua saat ini lakukan, atau sikap yang mereka tunjukan pada anak mereka. Sebagian besar mereka hanya melepas anak mereka dalam rangka menuntut ilmu di bangku sekolah, tanpa mereka memberikan dorongan ketika mereka berada di sekeliling mereka.
Sehingga harus ada rasa kepekaan orang tua terhadap anak-anak meraka. Sehingga seorang anak akan merasa nyaman ketika berada di sekeliling keluarganya, karena begitu banyak anak didik yang terbengkalai di karenakan kurangnya perhatian dari orangtua mereka. Sehingga memunculkan persepsi bahwa orangtua mereka taklagi memberikan perhatian yang cukup pada mereka sehingga kebanyakan dari mereka pergi dari rumah dan memilih untuk hidup sebagai anak jalanan. Kemudian keluarga seperti apakah yang kemudian bisa memberikan efek positif bagi anak dalam langkah meningkatkan kecerdasan anak. Sejak kapan dan Pendidikan seperti apa yang harus orangtua berikan..?
Jika kita melihat dari beberapa makna-makna hdits, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang tua harus bisa memberikan pendidikan kepada anak mereka sejak mereka masihbelia,bahkan ketika bayi itu masih dalam kandungan. Karena dari orangtualah seorang anak akan belajar, dan dari itupula karakter seorang anak akan terbentuk, baik dan buruknya itu tergantung pada pengajaran atau contoh apa yang orang tua berikan dan perlihatkan pada anak mereka.
Olehkarenanya, orang tua harus memberikan rasaperhatian kasihsayang pada ank mereka. Karena cinta dan kasih saying yang diberikan akan memberikan begitu banyak pengaruh terhadap perkembangan karakter maupun kecerdasan seorang anak. Karna Cinta orang tua bisa memberikan dorongan yang kuat untuk belajar dan menjadi orang cerdas. Tetapi cinta itu sendiri bisa menjadi landasan pembelajaran bagi orang tua kepada anak-anaknya. Orang tua tidak hanya mendorong anak untuk belajar, tetapi menjadikan diri mereka sendiri sebagai guru, guru pertama dan yang utama, maka orang tua bisa membelajarkan anak-anak mereka  sendiri dengan cinta.
Lihatlah kasus Thomas Alfa Edison, orang cerdas abad pertengahan yang menemukan listrik ini.  Awal kisahnya ia dikenal sebagai anak bodoh di sekolahnya dan dewan gurupun menyerah, karna menurut mereka Thomas ini terlalu bodoh untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Tetapi apakah yang dikatakan dan dilakukan oleh Marry Edison, ibu Thomas ini? Ia berkata dengan cintanya yang meluap; “ Akan aku tunjukkan kepada semua orang bahwa anakku ini adalah anak yang cerdas”. Setelah pernyataannya itu Ibu yang sangat bijak ini pun membimbing anaknya dan mengajarinya bagaimana huruf-huruf itu membentuk kata dan kalimat dan tentunya juga pengertian dan logika.
    Dan seperti kita ketahui, Thomas Alfa Edison banyak jasanya bagi umat manusia karena kecerdasannya. Apakah kira-kira yang akan terjadi, jika Merry Edison dulu brkata; Memang Thomas itu anak yang bodoh, biyarkan saja diya tingggal di rumah!” Apakah dengan komentar ibunya yang seperti itu, Thomas bisa menjadi anak cerdas? Jawabannya; Tidaklah mungkin. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya.
Selain contoh diatas  pembelajaran dengan cinta juga melahirkan manusia-manusia besar seperti Imam Syafi’I, Al-Khawarijmi, Ibnu Khaldun, Ibn Sina, Imam Ja’far dan generasi-generasi pertama umat Islam. Mereka ini adalah orang-orang yang hidup aroma ajaran islam dengan keluarga islam yang sangat kental. Contoh pembelajaran dengan cinta yang utama adalah Rasulullah saw, yamg tidak hanya membelajarkan keluarganya, seperti Fatimah dan menantunya Ali Ibn Abi Thalibtetapi juga sahabat-sahabat beliau sendiridalam suatu rumah yang menjadi institusipembelajaran, Arqam Ibn Arqam.  Hasilnya, seperti dapat kita simak bahwa umat Islam generasi pertama, adalah komonitas terbaik umat manusia. Karna mereka diajari langsung oleh Rasulallah, yang memberikan pangajaran dengan penuh rasa kasi sayangnya kepada umatnya.
    Sehingga sudah seharusnya para orang tua memberikan luapan cinta dan kasih saying pada anak-anak mereka, guna menopang seorang anak dalam pembelajarannya. Karna dengan rasa cinta itu seorang anak akan merasa nyaman berada di sekitar orang tuanya,yang kemudian memudahkan bagi orang tua untuk memberikan pengajaran pada anaknya. Karna dengan cinta itu memungkinkan seseorang untuk bekerja keras, terus menerus dan dalam waktu yang lama, tanpa  mengenal kata lelah. Dengan cinta pula seseorang memiliki kepekaan dan kemampuan untuk memahami segala sesuatu secara substansial, hanya melalui isyarat-isyarat yang sederhana bahkan dengan bahasa “ diam “. Cinta itu juga dapat meningkatkan energy besar dan meningkatkan pemahaman dan bahkan dengan cinta dapat membangkitkan orang yang kita cintai kita dan salah satunya adalah cinta antara orang tua kepada anaknya, yang bisa meningkatkan niat belajar seorang anak, karena termotivasi dari rasa cinta orangtuanya.
   
    “Menuntut ilmu itu dari ayunan hingga ke liang lahat” . Kemudian, sejak kapankah pendidikan itu di berikan pada seorang anak?” Pendidikan terhadap anak harusnya dilakukan semenjak dia lahir atau balita. Dan peran saat ini lebih pada seorang ibu. Para ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya sendiri. Orang pertama yang menjadi sandaran anak-anaknya, tempat bertanya, mengadukan halnya dan juga pelindungnya. Jawaban-jawaban yang diberrikan serta kepedulian seorang ibu bagi anak-anaknya, sangat menentukan bagi anak-anaknya.
    Mengapa? Karena ibu adalah guru pertama, maka ajaran-ajaran yang diberikan kepada anaknya akan menjadi acuan utama bagi anaknya.Karena kesetiaan seorang anak pada ibunya, juga dipengarui oleh tingkat hubungan dan keintiman ibu kepada anaknya.  Dapat diibaratkan bahwa anak-anak adalah seperti spon kering, yang begitu mudah menyerap air, tak peduli apakah air itu bersih atau kotor. Karena itu ketika ajaran-ajaran itu baik, maka anak itu akan menjalani hidupnya berdasarkan pada referensi yang baik, dan jadilah anak itu manusia-manusia yang sholeh, cerdas dan pandai. Begitu pentingnya pembelajaran itu di berikan, bukan pada saat anak menginjak bangku sekolah tapi semenjak ia lahir. Karena keluarga adalah tempat dasar pembentukan karakter seorang anak.
    Syyid Qutb, melalui tafsirnya yang sangat terkenal, menyatakan bahwa system keluarga didalam Islam terpancar dari mata air fitrah, asal penciptaan dan dasar pembentukan utama bagi seluruh makhluk hidup dan segenap ciptaan. Keluarga adalah ‘panti asuahan’ alami yang bertugas memelihara dan menjaga tunas-tunas muda yang tumbuh, mengembangkan fisik, akal dan jiwanya. Dibawah bimbingan dan cahaya keluarga, anak-anak ini menguak kehidupan, menafsirkan dan berinteraksi denagannya. 
    Perlu ditegaskan disini, bahwa masa kanak-kanak manusia adalah paling lama di bandingkan dengan makhluk lainnya. Hal ini sangat terkait dengan denagan tugas-tugas manusia sesungguhnya sangat kompleks dan berat. Untuk itu menjadi wajar, jika dalam kehidupan keluarga tersebut mereka mempersiapkan diri dalam waktu yang cukup, untuk menjadi kholifah Allah di muka bumi ini.karena itupula mereka memerlukan banyak berinteraksi dengan orangtuanya, melebihi makhluk lain. Oleh sebab itu, dalam sosial Islam, Allah menginginkan Muslimin masuk kedalam kedamaian dan kenikmatan menyeluruh, tegak diatas pondasi keluarga, diberi perhatian yang layak sesuai dengan perannya yang sangat besar.
    Dan langkah yang dilakukan oleh orang tua adalah lebih mengedepankan pembelajaran, dalam artian orang tua memberikan bimbingan yang bertujuan pada pendidikan anak, dan menjauhkannya dari hal yang sia-sia. Di samping itu, perkembangan teknologi informasi saat ini, ana-anak telah mendapatkan limpahan hiburan dri media elektronik, sebaliknya media-media ini sangat sulit untuk menyampaikan pesan-pesan intelektual yang berarti. Sesunggguhnya masih banyak hal yang perlu di kemukakan, tetapi hanya dengan tiga aspek, yakni minat anak secar subyektif, potensi intelektual dan perkembangan informasi yang ada,maka orang tua harus lebih mengedepankan pembelajaran daripada permainan.
    Kemudian pembelajaran harus diberikan dengan cara yang menarik, karena itu akan menumbuhkan antusiasme anak. Disamping itu, pembelajaran yang di maksudkan juga memungkinkan anak-anak untuk mengekploasikan kemampuannya. Karena merasa nyaman dengan cara pembelajaran yang diberikan. Dan orang tua harus terus memberikan motivasi dan dorongan dalam proses pembelajaran anak-anak, karena motivasi mampu menggerakkan diri menuju suatu yang lebih baik, terlebih lagi bagi anak-anak. Untuk membangkitkan kemampuannya maka vaktor yang sangat penting adalah motivasi untuk belajar. Motivasi yang bijak akan mengubah semua faktor penghambat menjadi tantangan yang mengasikkan anak untuk menyelesaikannya.
    Dalam kegiatan belajar, sukses atau gagalnya seorang anak mencapai prestasi, tidak hnaya di tentukan oleh kecerdasan semata-mata, tetapi yang tidak kalah pentingnya juga motivasi. Peranannya sangat khas dalam hal membangkitakan gairah, rasa senang dan semangat untuk belajar. Menurut W.S. Winkel, ada empat fungsi dari motivasi, yakni membangkitkan (arousal), harapan (expactacy), insentif (intentive), dan disiplin (disciplinary function). 
    Ketika seorang anak telah kehilangan motivasi, maka apa yang menjadi tugas utamanya itu bisa secara sengaja di abaikan. Ia tidak merasa bertanggung jawab jika prestasinya di sekolah merosot. Ia juga tidak memiliki ambisi untuk selalu berebut prestasi. Ibaratnya kendaraan. Motivasi adalah mesin yang menggerakkannya. Tanpa mesin ini hidup, tak mungkin kendaraan ini bisa berjalan. Begitu pula halnya dengan seorang anak.
    Untuk menghadapi persoalan tersebut tentunya orang tua harus tahu secara persis apa yang menjadi kendala, sehingga ia kehilangan motivasi belajar. Hal yang paling sederhana tentulah kita dapat menanyakan masalahnya secara terbuka. Jika ia mau menjawab secara jujur, maka masalahnya akan cepat selesai. Tetapi seringkali seorang anak menyembunyikan permasalahannya itu pada orang tua, maka diperlukan persuasi dan langkah-langkah taktis, agar kita mampu mengembalikan motivasi dan meningkatkan belajar ana-anak.
    Betapa pentingnya motivasi yang diberikan orang tua kepada anak agar menjadi cerdas, dapat dilihat dalam banyak kasus. Thomas Alfa Edison adalah salah satu contoh. Dimana ia di anggap oleh para gurunya  di sekolah sebagai anak yang bodoh dan tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Ia pun dikeluarkan dari sekolah. Peristiwa ini sesungguhnya merupakan “lonceng kematian” bagi masa depan Alfa Edison. Tetapi ibunya mampu membangkitkan Edison kecil, dengan motivasi dan keyakinan yang luar biasa. Dengan kasih saying, bimbingan dan pelajaran-pelajaran yang diberikannya, Edison benar-benar menjadi anak yang  genis, jauh melampaui anak-anak yang sebaya dengannya. Dan pada masa jayanya, Edison pun mengatakan bahawa orang yang paling berpeeran terhadap kejayaannya adalah ibunya.
    Adapun beberapa langkah bagi orang tua dalam mengembalikan motivasi bagi ana-anaknya diantaranya:
•    Ajaklah anak-anak anda kepada situasi yang baru,yang belum pernah ia alami. Contohnya mengajak mereka ke tempat rekreasi yang belum pernah mereka kunjungi.
•    Sanjunglah anak-anak anda betapapun kecilanya prestasi yang di buatnya, terutama berkenaan dengan kegiatan belajarnya. Bentuk sanjungan itu hendaknya mengekspresikan cinta dan kasih sayang kita kepadanya. Karena, sekecil apapun sanjungan itu, memiliki efek yang sangat besar bagi anak. Karena itu dengan sanjungan yang kita berikan atas kegiatan belajarnya, tentu ia akan memiliki motivasi baru untuk meneruskan kegiatannya secara intensif.
•     Bersabarlah jika sekiranya semua yang kita lakukan belum menuai hasila yang maksimal.
 Disamping hal-hal yang telah di paparkan diatas, orang tua juga harus memperhatikan tatacara mereka dalam memberikan didikan kepada anak mereka. Tidak menghilangkan semangat mereka dalam belajar, dengan senantiasa memberi dukungan, perhatian. Dan yang tak kalah pentingnya adalah menghindari hal-hal yang memungkinkan hilangnya kepercyaan diri dan motivasi, misalnya, memberikan kata-kata yang kasar atau umpatan, memberikan hukuman atau sanksi yang akan mengakibatkan hilangnya semangat seorang anak dalam menuntut ilmu.
Adapun beberapa  usaha yang harus orang tua perhatikan dan lakukan, dalam rangka menopang peningkatan mutu pendidikan anak.

•    Memenuhi kebutuhan belajar
Apabila  orang tua menginginkan hasil pendidikan anaknya itu dapat meningkat, maka orang tua harus memenuhi kebtuhan anak-anaknya dalam belajar, seperti halnya fasilitas yang memadai dalam proses pembelajarannya. Nah, agar dapat belaajar dengan efektif, maka diperlukan adanya:

1)    Ruang belajar harus bersih, sehingga tidak adamasalah yang menganggu konsentrasi pada saat sedang belajar.
2)    Ruangan yang cukup terang, sehingga tidak mengganggu pandangan mata.
3)    Cukup sarana yang di perlukan, misalnya alat pembelajaran, buku-buku dan lain-lain.
•    Selalu membimbing dan Memotivasi anak
Tidak semua anak memiliki motivasi yang kuat dalam hal belajar. Kadang kala timbul pada anak rasa malas jenuh dan sebagainya. Dalam kasus seperti inilah diperlukannya bimbingan dan motivasi dari orang  tua, agar masalah dapat teratasi. Sebagaimana yang kita ketahui makna dari motivasi “  Untuk meggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauwannya untuk melakukan sesuatu guna memperoleh hasil”. Disamping membimbing dan memotivasi, orang tua juga harus memperhatikan dan member petunjuk tentang cara-cara belajar tersebut, di praktekkan atau dilaksanakan secara teratur.
•    Meningkatkan suasana rumah yang aman, tertib dan damai
Dalam suasan rumah yang  tentram dan damai, maka anak akan berkonsentrasi sepenuhnya dalam belajar. Sebaliknya, jika suasan dalam rumah bising dipenuhi dengan cek cok, maka ini akan mempengaruhi konsentrasi anak saat belajar, sehingga tidak maksimalnya dia dalam menyerap apa yang ia pelajari.
    Orang tua tentu ingin anak-anak mereka berhasil di sekolah, tetapi kadang banyak orang tua yang masih menganggap remeh akan peranannya terhadap keberhasilan pendidikan anak-anaknya di sekolah. Di sekolah sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari, dukungan yang konsisten dari orang tua sangat penting untuk mempertahankan kepercayaan diri siswa dan keinginan berprestasi. Orang tua memainkan empat peran yang berbeda dalam pendidikan anak-anak mereka : pembimbing, teman, guru, dan penegak disiplin. Pemahaman tentang peran ini dapat membantu Anda untuk membantu anak Anda menghadapi tantangan belajar.
Jadilah Pembimbing
Perkembangan anak-anak akan memerlukan dorongan dan bimbingan orang tua. Demikian halnya dalam pendidikan di sekolah. Pembelajaran yang sesungguhnya tidak didasarkan pada nilai-nilai mata pelajaran sekolah semata, melainkan pada nilai anak dalam menjalani proses pendidikan di sekolah itu sendiri. Sangat penting untuk mengambil suatu hal positif dari sebuah kegagalan dan untuk mengajarkan seorang anak sebuah keterampilan penting mengenai hal itu. Namun ketika mata pelajaran menjadi sandungan saat anak anda gagal mendapatkan nilai terbaiknya, Anda bisa memintanya dengan baik-baik dan membimbingnya untuk mengulangi mempelajarinya kembali. Hal tersebut bisa membantu mereka untuk melihat bagaimana pentingnya untuk terus mencoba dan akan mengajarkan mereka untuk mengakses keterampilan yang telah mereka miliki ketika dihadapkan dengan tantangan baru atau kurang menarik.
Jadilah Teman
Menghadapi berbagai mata pelajaran di sekolah bukanlah satu-satunya hal yang menjadi perjuangan seorang anak di sekolah. Boleh jadi mereka mengalami masalah dengan seorang guru, sekelompok teman, atau pengganggu lain di tempat mereka bermain. Dalam situasi ini, apa yang mereka perlukan adalah seseorang  yang bersedia untuk mendengar apa yang menjadi masalah mereka – dan bahwa seseorang itu adalah orang tua.
Tanpa memiliki seseorang yang mau mendengarkan masalahnya, maka seorang  anak akan memiliki tambahan stres dalam kehidupan mereka, yang bisa menurunkan harga diri dan motivasi belajar mereka. Dengan mengetahui berbagai permasalahan anak anda di sekolah, anda sendiri bisa menentukan langkah-langkah bantuan paling tepat yang harus anda ambil, apakah bisa diatasi anak itu sendiri ataukah memang memerlukan campur tangan anda secara langsung. Misalnya, ketika anak anda enggan ke sekolah karena selalu mendapatkan perlakuan kasar dari teman-temannya, boleh jadi anda perlu berbicara dengan gurunya ataupun kepala sekolahnya untuk mendiskusikan masalah ini.

Jadilah seorang Guru
Anda tidak bisa begitu saja menyerahkan semuanya kepada guru, walaupun sudah barang tentu itu adalah tugas mereka. Karena bagaimanapun, walaupun anak anda ditangani oleh seorang guru terbaik dan cerdas, mereka tetap bisa mengalami kesulitan untuk mampu memenuhi kebutuhan individual setiap anak, terlebih di kelas yang penuh sesak. Anak-anak tetap akan memerlukan perhatian secara pribadi, jadi peran orang tualah untuk memastikan mereka mendapatkannya.
Tetaplah untuk terlibat dengan tugas-tugas sekolah anak, pekerjaan rumahnya, ulangan hariannya, maupun kegiatan-kegiatan lainnya di sekolah. Sisihkan waktu setiap hari untuk menawarkan bantuan. Jika Anda menemukan anak Anda membutuhkan bantuan ekstra, aktiflah dalam mendapatkannya, atau akan lebih baik lagi jika anda bisa melakukannya bersama-sama..
Jadilah Penegak Disiplin
Ya, kadang-kadang ini merupakan sesuatu yang sulit. Tapi ada yang lebih besar dari sekedar disiplin. Memastikan dari awal dengan membantu anak Anda mengatur dan menjaga jadwal, mencapai tujuan dan tugas selesai tepat waktunya. Jangan berharap anak Anda untuk mengetahui dengan benar bagaimana menyelesaikan sebuah tugas, atau memahami jadwal pelajaran di sekolah. Bagaimanapun pada kali pertama Mereka mungkin tidak bisa melakukannya dan masih melakukan kesalahan.
Bersabarlah tetapi tetap memegang prinsip-prinsip disiplin anda hingga anak anda menangkap dan memahaminya. Kadang-kadang Anda harus bersikap tegas, dan dengan sedikit demi sedikit ketegasan setiap hari akan mengajarkan anak Anda akan pentingnya keterampilan manajemen waktu. Hal tersebut bisa memberi mereka fungsi kontrol dan dapat membantu mencegah krisis PR ataupun tugas sekolah lain yang berkepanjangan. Mau bersikap tegas, tetapi tidak membuat sekolah atau pekerjaan rumah tampak seperti hukuman. Ketika hal-hal yang harus dihadapi anak di sekolah menjadi bertambah sulit, mereka akan menghormati otoritas Anda dan melihat Anda sebagai sumber daya untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.
Selain hal-hal di atas, orang tua juga harus memperhatikan untuk memberikan pendidikan karakter, guna membangun karakter yang baik untuk menunjang mutu pendidikan seorang anak. Adapun hal-hal yang perlu di berikan dalam pendidikan karakter, diantaranya adalah.
a)    Relijius
Kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai relijius merupakan pendidikan karakter yang utama. Melihat nilai relijius yang semakin memudar dalam perkembanggan zaman, maka harus diterapkan sejak dini dalam proses pendidikan baik formal ataupun tidak. Berdo’a sebelum dan sesudah belajar, berbuat baik kepada sesama, mengormati dan patuh kepada kedua orang tua dan sebagainya merupakan bentuk aplikatifnya. Jika sudah menyatu dan menjadi suatu kebutuhan maka akan melahirkan generasi bangsa yang berkualitas, sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan.
b)    Jujur
Karakter bangsa yang kini menjadi sorotan pada berbagai aspek kehidupan adalah kejujuran. Sekarang, nilai kejujuran diumpamakan sebagai barang berharga yang sangat mahal. Lemahnya nilai kejujuran di sekolah, seperti, budaya menyontek, berbohong kepada guru akan berdampak terhadap proses pendidikan dan hasil yang akan diperoleh. Maka orang tua memiliki kewajiban untuk membangun nilai kejujuran pada anak-anak mereka.
c)    Disiplin
Kedisiplinan membuat pelajar senantiasa menggunakan waktu dengan sebaiknya, dalam arti tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Maka kedisiplinan ini bisa dimulai dari lingkungan keluarga, yang dibimbing langsung oleh kedua orang tua anak tersebut.
d)    Kerja Keras
Keberhasilan diperoleh melalui usaha. Kerja keras yang dilakukan meliputi rajin belajar, membuat tugas dengan sungguh-sungguh, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan. Suksesnya penerapan kerja keras dalam melaksanakan hak dan kewajiban, akan melahirkan peserta didik yang mau berusaha, tanpa mengenal putus asa. Hal ini membuat siswa mau bekerja keras dalam mencapai tujuan akhir pendidikannya.
e)    Kreatif
Alternatif lain yang digunakan untuk mengatasi permasalahan yaitu dengan pemikiran yang kreatif. Siswa yang kreatif sangat diidamkan, karena mampu menghasilkan karya-karya yang baru seperti karya sastra, karya seni, tidak terbebani terhadap satu solusi serta jauh dari jiwa imitasi.
f)    Mandiri
Siswa mandiri akan terlepas dari ketergantungan terhadap bantuan yang diberikan oleh orang lain. Kemandirian sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran, seperti mengerjakan tugas sendiri, dan melengkapi bahan pembelajaran. Kemandirian melatih siswa untuk terbiasa menggunakan kemampuan yang dimilikinya. Jadi, generasi muda harus mandiri dalam mengerjakan kewajiban yang telah diberikan.
g)    Rasa Ingin Tahu
Minat dalam proses belajar adalah rasa ingin tahu terhadap materi yang disampaikan. Jika rasa ingin tahu selalu menjadi hal yang selalu dibiasakan, maka menerima materi akan mudah dirasakan. Rasa ingin tahu membuat siswa selalu menggali ilmu, mencari informasi, melakukan suatu hal yang baru.
Dengan pendidikan karakter yang diberikan oleh orang tua, maka akan memudahkan anak dalam rangka meningkatkan mutu pendidikannya. Karena pembentukan karakter akan menjadikan anak yang lebih memperhatikan pendidikannya, akan lebih bertanggung jawab terhadap perilakunya.
Selain itu dalam mendidik anak, orang tua harus menjauhi kekerasan dalam mendidik. Karena kekerasan hanya akan menimbulkan rasa bersalah  seorang anak. Bahkan tidak menutup kemungkinan menimbulkan rasa dendam pada seorang anak.
Puluhan bahlan ratusan pendidik klasik dan modern meragukan bahkan menolak hukuman fisik dalam pendidikan. Mereka menegaskan bahwa hukuman fisik mengandung banyak bahaya. Khususnya hukuman fisik yang sangat bertentangan dengan kemuliaan, harga diri, dan perasaan seseorang.
C.    Kesimpulan
Jadi pada dasarnya, pendidik itu tidak hanya terpaku di bangku sekolah saja. Akantetapi pendidikan juga bisa dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, yang dijalankan oleh orang tua itu sendiri. Dengan memberikan perhatian yang cukup, pembelajaran yang dilandaskan dengan kasih saying. Karena dengan cinta dan kasih saying, maka dorongan seorang anak akan lebih besar dalam rangka mencapai hasil.
Selain itu, hendaknya orang tua menjauhi nilai-nilai kekerasan fisik dalam mengajarkan anak-anaknya. Guna menghindari hal-hal yang memungkinkan hilangnya minat seorang anak dalam menuai ilmu yang pada akhirnya tidak mampu meningkatkan mutu pendidikan anak, akan tetapi malah sebaliknya. Orang tua hendaknya memberi perhatian yang lebih pada anaknya, senantiasa memotivasi dikala anaknya mendapatkan hambatan dalam belajar, bisa menjadi teman dikala seorang anak memerlukannya, dan menjadi guru yang baik baginya, untuk menopang mutu pendidikan anak itu sendiri.
 




DAFTAR PUSTAKA:
Suharsono,  Melejitkan IQ, EQ, SQ, Jakarta Ummah Publising, 2009.
Qutb, Sayyid, Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an, Jakarta: Robbani Press, 2000.
Abror, Abd. Rachman, Psikologi Pendidikan, Yogyyakarta: Tiara Wacana, 1993.
Kazhim, Muhammad Nabil, Sukses Mendidik Anak Tanpa Kekerasan, Solo: Samudera, 2011.
Suharsono, Mencerdaskan Anak, Jakarta: Inisiasi Press, 2000.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar